Senin, 08 Agustus 2016

Ini Juga Belajar. Agustus

 ((add photos soon))

Hi... 33+1/2 hari atau 802 jam harus “terjebak” dengan orang yang berbeda, tempat tinggal berbeda, lingkungan berbeda, adat berbeda, tanggung jawab berbeda. Ya cuma kotanya aja yang ga berbeda, hehe.

Hari pertama super sedih, faced the fact that I had to left them. Paguy. Pake segala ada perpisahan ala-ala di kampus. HAHAHA. Untung balik sendiri di bis. Super sedih. Untung ga dilihat siapa-siapa. Lemah.

On the next day hidup penuh perjuangan. Tiap hari ngeluh ke mereka tetntang teman  baru yang ga enak. Mau sama mereka aja. Gamau sama yang ini, sama yang itu. Mau ini. Mau itu. Lemah. Kayak anak kecil. Blessed, karena selama ini hidup sama pa.gu.yu.ban yang diyakini memang kumpulan orang-orang hebat plus tahan banting.

On the (other) next day mulai bisa baca situasi. Punya orang baru untuk bertahan hidup. Oke, sama yang ini aja. Yang lain ga usah dipedulikan.

Day by day. Masalahnya makin besar. Bessaarr banget. Banyak masalah yang memang benar benar masalah. Dan KITA harus benahi. Mulai memperbaiki diri kalau masalah ego harus cepet selesai bahkan ditiadakan agar masalah sesungguhnya ini bisa KITA selesaikan. “Harus dewasa bar”.

Sensitif. Setiap diasut ngomongin kejelekan orang malah ikutan. Kalau ada yang bahagia malah sedih karena iri. Pokoknya sensitif. Yang ada di posisi lain berati musuh. Astagfirullah. Padahal ga boleh.

Mulai lelah. Mulai berpikir harus cari ‘suplemen’ biar bisa ‘sembuh’. Mulai ketemu temen – temen kampus, mulai sering ke kampus. Cari excuses biar bisa dapet ‘suplemen’. Termasuk pulang. 6 tahun merantau ga pernah se-homesick ini. Parah. Ditelpon pun engga. Mulai overthinking. Akhirnya memulai telpon sendiri dengan alasan yang dibuat-buat untuk confirmed kalau yang di rumah baik-baik aja. Belum pernah selama ini dikasih rasa homesick segininya. Termasuk Allah attached some bad dreams. Really bad. Ga mau tau harus pulang. Dan akhirnya pulang Jumat – Minggu. Ga urus yang macem-macem kecuali emang mau ngabisin waktu sama orang rumah. The people that always make me homed.

Dan sekarang. 18.23 di 2 minggu terakhir mulai berpikir untuk selalu bertingkah dewasa. Mulai mendapat pencerahan bahwa ga semua rangkaian perjalanan ini buruk. Aku juga bukan orang yang sempurna. Kenapa selama ini jadi ngeluhin banyak orang kalau orang? yang ini begini yang itu begitu. Semua punya kekurangan pun kelebihan masing-masing. So what ? jalanin aja dengan (insyaAllah) senyuman dan syukur. Jalani aja 2 minggu terakhir ini dengan harapan bisa menjadikan pengabdian ini indah. Ya bayangin aja pengkaderan yang hanya sekian hari aja bisa membentuk kekeluargaan. Apa lagi yang ini ? HAHAHAHAHAHA.

Allah emang punya jalannya sendiri. Ia kuatkan aku bahkan di saat-saat minggu terlemah.

Ini Anbar, sedang mendewasakan diri. Masih menunggu habisnya bulan Agustus sambil berharap semuanya baik-baik saja.

Atas nama pengabdian

Sabtu, 02 April 2016

Ekspektasi

Kata orang "the more you build an expectation, the more you get hurt" yes it is.. Salah sebenernya kalau berharap dengan ekspektasi yang kita mau, kalau kenyataannya ga kayak gitu

Sayang? Becanda kali

Kamis, 05 November 2015

Cuma rindu

Aku cuma lagi rindu

Rindu berjuang bersama, bukan aku yang berjuang atau hanya dia dan mereka yang berjuang
Rindu tertawa bersama, bukan aku yang sedang bersama sama tapi hanya pura pura tertawa
Rindu melangkah ke atas bersama, bukan saling melangkah ke atas namun menginjak yang masih di bawah
Rindu saling mendoakan
Rindu samasama tenggelam dalam air mata karena tahu kita yang salah, bukan sibuk menangis sendirian karena hanya bisa menyalahi diri sendiri
Rindu tersenyum saat bahagia
Rindu saat semua orang dapat berterimakasih atas semua yang sudah diperjuangkan
Rindu saat katakata terucap kemudian terdengar di depan, bukan dari belakang
Ribdu atas kasih sayang yang tulus
Rindu saat saat hanya ada kita, bukan ditambah dengan orang orang yang bahkan aku tidak tahu siapa
Rindu saat aku tahu semuanya tanpa harus meminta diberi tahu
Rindu saat aku dikuatkan, bukan malah menjadi aku yang lemah saat aku malah menguatkan yang lain
Rindu saat aku dan yang lain mengingatkan untuk selalu kembali kepada Allah
Rindu aku bisa bilang salah saat itu semua memang salah adanya
Rindu aku bisa bilang tidak suka saat memang itu bertentangan
Rindu dimana semua detik menit jam hari dan tahun selalu bisa memperbaiki diri
Rindu saat semua bisa memperhatikan bukan hanya aku yang memperhatikan
Rindu saat tulus berasal dari hati, bukan cuma berasaskan pelaksanaan kewajiban
Rindu saat semua momen dinantikan, bukan dengan dasar kalimat "badai pasti berlalu"
Rindu saat bersujud kemudian air mata mengalir dengan deras
Rindu dengan sepertiga malam yang hanya milik aku dan pencipta
Rindu saat semua yakin atas mimpi, bukan sekedar angan-angan murah
Rindu mengejar surga firdaus, bukan saling mengejar jabatan perusahaan
Rindu ketika semuanya berjuang dari nol, bukan ketika yang lain mendapatkan jalan jalan pintas "keistimewaan"
Rindu
Rindu
Rindu
Rindu
Kemudian ada banyak rindu yang tak tersampaikan hingga rasanya jenuh sesak di dada.. Bahkan tidak tahu kapan dimana kepada siapa dan bagaimana dikeluarkan kemudian ruangnya dapat di isi dengan hal baru yang menggembirakan

Kalian bisa bilang aku bodoh, kalian memang cuma bisa bilang "gampang" "harusnya kamu gini gitu blablabla aja" "yaelah" "yaudah" "ribet dasar" "lemah dasar" tapi kalian bahkan belum tahu aku siapa, jadi tolong berhenti menyakiti bahkan saat kalian belum membuka mulut. Karena sebenarnya
ada mata yang lebih perasa dari pada telinga