Rabu, 05 Juli 2017

JuniKu

Juni akan tetap menjadi Juni, apapun yang terjadi
Aku selalu menyukai Juniku
Iya, Juni setelah Mei dan sebelum Juli
.
.
Bulan lahirku 😊
Aku selalu berusaha untuk menyukai hal-hal kecil mengenai kehidupanku.. aku dekap hingga terus bersamaku
.
.
Kutemukan segala keindahan di bulan Juni
Jika kalian ingin tahu, bagi seorang pelajar sepertiku, Juni selalu menjadi bagian sakral. Coba kalian ingat-ingat, Juni selalu dihampiri dengan acara bagi rapot, atau bahkan memasuki perkuliahan akan menjadi ajang UAS. Masa-masa dimana orang-orang lain sedang takut-takutnya, tapi aku tetap dekap Juni sebagai favoritku.
Acara ulang tahunku? Bukaaannn. Aku senang dengan rangkaian acara ulang tahunku jika memang itu dirayakan bersama orang-orang. Tapi tidak apa-apa juga memang jika tidak dirayakan. Aku bukan penganut yang merayakan hari ulang tahun dengan pesta 😊.

Bagiku, berhasil membawa kabar gembira berupa capaian hasil belajar adalah hadiah langsung dari Allah. Untuk siapa? Untuk orang tuaku melalui aku.. karena aku merasa belum bisa memberi apa-apa kepada mereka. Aku pikir membawa hasil belajar yang cukup baik dan tidak mengecewakan adalah 'hal minimal' yang bisa aku beri
.
.
Tahun 2017, alhamdulillah aku bisa menuju sarjana dengan melewati seminarku di bulan Mei, dan dilanjut sidang (insyaAllah) di bulan Juli, kemudian Juninya ada apa? Aku terus berpikir, oh tapi mungkin karena bertepatan dengan Idul Fitri jadi mungkin ini hadiah dari Allah.. tapi kemudian aku ragu, pasti bukan sesederhana bulanku dipertemukan dengan bulan Syawal. Aku yakin pasti Allah siapkan yang lebih. Lalu aku menunggu..
.
.
Ya Allah aku selalu menunggu Juniku dengan hadiah darimu. Pertemukan aku dengan Juni yang baik 😇

Rabu, 07 Desember 2016

Kicauan

Ini aku.
Aku (sedang berusaha) terus percaya.
Percaya bahwa semua akan baik-baik saja.
Percaya bahwa yang sudah dikonfirmasi (dengan penuh keberanian mengungkapkan) itu adalah benar.

Tugas kita hanya berusaha.

Tugasmu hanya menjaga kepercayaan ini.

Dan biarkan semesta mendukung.

17:57. F

Senin, 08 Agustus 2016

Ini Juga Belajar. Agustus

 ((add photos soon))

Hi... 33+1/2 hari atau 802 jam harus “terjebak” dengan orang yang berbeda, tempat tinggal berbeda, lingkungan berbeda, adat berbeda, tanggung jawab berbeda. Ya cuma kotanya aja yang ga berbeda, hehe.

Hari pertama super sedih, faced the fact that I had to left them. Paguy. Pake segala ada perpisahan ala-ala di kampus. HAHAHA. Untung balik sendiri di bis. Super sedih. Untung ga dilihat siapa-siapa. Lemah.

On the next day hidup penuh perjuangan. Tiap hari ngeluh ke mereka tetntang teman  baru yang ga enak. Mau sama mereka aja. Gamau sama yang ini, sama yang itu. Mau ini. Mau itu. Lemah. Kayak anak kecil. Blessed, karena selama ini hidup sama pa.gu.yu.ban yang diyakini memang kumpulan orang-orang hebat plus tahan banting.

On the (other) next day mulai bisa baca situasi. Punya orang baru untuk bertahan hidup. Oke, sama yang ini aja. Yang lain ga usah dipedulikan.

Day by day. Masalahnya makin besar. Bessaarr banget. Banyak masalah yang memang benar benar masalah. Dan KITA harus benahi. Mulai memperbaiki diri kalau masalah ego harus cepet selesai bahkan ditiadakan agar masalah sesungguhnya ini bisa KITA selesaikan. “Harus dewasa bar”.

Sensitif. Setiap diasut ngomongin kejelekan orang malah ikutan. Kalau ada yang bahagia malah sedih karena iri. Pokoknya sensitif. Yang ada di posisi lain berati musuh. Astagfirullah. Padahal ga boleh.

Mulai lelah. Mulai berpikir harus cari ‘suplemen’ biar bisa ‘sembuh’. Mulai ketemu temen – temen kampus, mulai sering ke kampus. Cari excuses biar bisa dapet ‘suplemen’. Termasuk pulang. 6 tahun merantau ga pernah se-homesick ini. Parah. Ditelpon pun engga. Mulai overthinking. Akhirnya memulai telpon sendiri dengan alasan yang dibuat-buat untuk confirmed kalau yang di rumah baik-baik aja. Belum pernah selama ini dikasih rasa homesick segininya. Termasuk Allah attached some bad dreams. Really bad. Ga mau tau harus pulang. Dan akhirnya pulang Jumat – Minggu. Ga urus yang macem-macem kecuali emang mau ngabisin waktu sama orang rumah. The people that always make me homed.

Dan sekarang. 18.23 di 2 minggu terakhir mulai berpikir untuk selalu bertingkah dewasa. Mulai mendapat pencerahan bahwa ga semua rangkaian perjalanan ini buruk. Aku juga bukan orang yang sempurna. Kenapa selama ini jadi ngeluhin banyak orang kalau orang? yang ini begini yang itu begitu. Semua punya kekurangan pun kelebihan masing-masing. So what ? jalanin aja dengan (insyaAllah) senyuman dan syukur. Jalani aja 2 minggu terakhir ini dengan harapan bisa menjadikan pengabdian ini indah. Ya bayangin aja pengkaderan yang hanya sekian hari aja bisa membentuk kekeluargaan. Apa lagi yang ini ? HAHAHAHAHAHA.

Allah emang punya jalannya sendiri. Ia kuatkan aku bahkan di saat-saat minggu terlemah.

Ini Anbar, sedang mendewasakan diri. Masih menunggu habisnya bulan Agustus sambil berharap semuanya baik-baik saja.

Atas nama pengabdian