Jumat, 23 Februari 2018

Roda berputar itu nyata

((baru nulis judul aja udah sedih :") ))

You must've heard a lot of time people talked about wheel of life.  Yeah. Me too
.
Dulu ketika mendengar perkataan bahwa "hidup seperti roda yang berputar. Kadang di atas,  kadang di bawah" and I was just like "hmm,  okay"  or "yeah I know" never imagine how it feels like.  Cuma ya angguk angguk aja seperti menyetujui tanpa makna berarti.
.
But now,  I am feeling it
.
Yeah I am in the lower lever than before. Because now I am realizing HAHAHA
.
Is it hard? Yes.
.
Lucu ga sih,  kemarin,  puluhan hari yang lalu ketika kamu merasa kamu punya (hampir) segalanya.  Seakan-akan semua terasa indah.  Bahkan tanpa usaha yang berarti.  Namun kamu miliki (hampir)  segalanya. Dan mungkin kamu -sedikit atau banyak,  jarang atau sering,  niat atau tidak diniatkan,  sengaja atau tidak disengaja- kamu rendahkan orang lain.  ((Astaghfirullah...)).  Definisi merendahkan di sini bisa jadi secara tidak langsung kamu merasa bahwa 'saya lebih baik dari mereka/dia'
.
Dan lucu ga sih,  orang yang kamu dulu banggakan/hormati/senangi bisa berubah menjadi orang yang bahkan sangat mengerikan/menyebalkan atau jadi orang yang kamu hindari.  Orang yang dulu tertawa bersama kemudian berubah menjadi hambar.
Sebaliknya,  kamu temukan orang yang dulu kamu pandang rendah/hina atau setidaknya sering kamu omongin kejelekannya berubah menjadi orang yang terlihat sangat berga saat ini,  mereka hadir menghangatkan dan peduli sama kamu.  Sangat
.
Dan aku menyesal.  Menyesal.  Sangat.  Tapi kembali teringat bahwa kita tidak boleh berandai-andai masa lalu.  Cukup dijadikan saja pelajaran agar tidak terulang
.
That's how Allah turn your wheel 😂
.
Betapa hebat Allah dengan kuasanya mengubah keadaanmu menjadi sangat kebalikannya.  Bukan sedikit.  Banyak.  Subhanallah
.
Mungkin itu mengapa ada nasihat "jangan membenci berlebihan,  jangan mencintai berlebihan" karena Allah bisa saja mengubah keadaannya.  Semua yang iya  bisa jadi tidak.  Dan semua yang tidak bisa menjadi iya
.
Untuk kamu,  yang sekarang merasa sedang berada di puncak roda,  berhentilah merendahkan siapapun,  kelak akan ada saatnya kamu yang berada di posisi itu. 
Dan bagi kamu yang sedang berada di roda bagian bawah,  bergembiralah karena rodamu akan berputar ke atas. Perintahnya hanya dengan sabar dan shalat.  Dua hal yang sungguh sedikit tapi sungguh berat.  Tapi janji Allah nyata bukan? Termasuk janjinya bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan?
.
Percayalah,  layaknya pengembara yang tersesat di kegelapan goa,  ketika dia terus berusaha melangkah,  kemudian suatu hari dia akan temukan cahaya terang di ujung goa. Dia akan menjadi makhluk yang lebih bersyukur karena dia tahu -sangat tahu- rasanya berada di kegelapan.
.
Percaya lah.  Hanya percaya.  Wamalhayaata illa mataa 'ulghuruur.  Bahwa dunia hanyalah senda gurau.  Jalani kegelapanmu/kesengsaraa mu/kesedihanmu atau apapun kau menamainya tetap pada koridor-Nya.  Jangan mengambil koridor yang lain.  Takut kamu akan lebih tersesat. 
.
.
.
00:21, february 24th 2018, somewhere between bandung - jakarta

Senin, 29 Januari 2018

'pain' is another word of 'dream'

Review ah sekali-sekali

Jadi ini ceritanya abis nonton korean variety show judulnya 'master in the house'  episode 5 ya fyi.  Trus mengutip quotes dari lee seung gi.  Quotesnya ya yang jadi judul post ini
'pain' is another word of 'dream'
.
.
Sedikit intro,  jadi master in the house adalah variety show dari Korea dimana para artis yang menjadi para host acara akan menginap di rumah seorang master yaitu orang yang 'ahli'  di bidangnya.  It could be actor,  athlete,  musician,  etc. Menginap di rumah termasuk mengikuti semua rutinitas dan aturan si master ini. Nah yang episode ini masternya adalah seorang athlete Baseball.

Singkat cerita,  di sini para host kan mengikuti aktivitas master ini termasuk latihan fisik di gym,  kebiasaan naik turun gunung -literally naik turun gunung loh,  buat latihan fisik-,  diet sehat,  dan lain-lain.  Termasuk rutinitas yang bikin para host tersentuh adalah,  dari segala kegiatannya master,  dia tetap mengurus anaknya,  take care for his son and daughter,  and of course loving her wife.  Ya tapi singkirkan dulu adegan2 touching ya hahaha
Di dalam suatu scenenya,  sang master menantang para host.  Jika para host bisa menang dalam adu permainan dodge ball melawan sang master dan temannya,  maka para host akan ditraktir barbecue.  Singkat cerita,  para host menang dan mereka pergi makan ke sebuah tempat barbacue.
One thing for sure,  ikutan ngiler sih waktu nontonnya,  soalnya barbacue seems so good bahkan diliat dalam layar hp.  Di sini,  sang master ga ikut makan,  karena dia dalam keadaan diet.  He said kalau dia harus terbiasa buat nahan lapar karena harus menurunkan berat badan dan 'menahan lapar'  adalah suatu bentuk pelatihan biasa bagi atlit.  Tapi ya melihat para host makan,  beberapa kali sang master tersorot dengan wajah yang ingin makan juga,  and he said.  Ya iyalah,  kadang kita liat orang makan walaupun sebelumnya udah makan,  atau memnag tidak dalam kondisi lapar,  suka jadi mau ikutan makan,  kan?
But,  master mengatakan sesuatu yang sebenarnya biasa aja sih - maybe buat kalian- tapi touched me really.  He said -yang sudah diterjemahkan lah ya pasti- "tidak,  saya tidak boleh makan. Ketika saya makan sekali,  saya akan makan lagi, itu tidak boleh"
.
.
See? What touched me for sure adalah.  Ketika gua sadar,  for any moment of my life.  Saat punya pantangan,  target, larangan atau apapun lah namanya.  Kadang,  dirayu dikit aja sama keadaan atau bahkan sama teman.  Padahal cuma "gapaplah,  sedikit aja" / "gapapalah sekali aja" / "gapapa kok,  kita ga bilang-bilang"  trus kita luluh.  Lantas menyerah pada pantangan atau larangan tersebut,  atau bisa jadi saat itu yang kita langgar adalah prinsip.  How pity I am.  Padahal saat master itu bisa aja dia melanggar pantangannya,  bisa jadi target menurunkan badannya bisa hancur,  yang lebih parah adalah timbulnya mindset "gapapa,  sekali-sekali".  Kayak gua sih,  misal punya taget jalanin 12 rakaat salat rawatib,  yang asli susah banget. Butuh istiqomah banget,  sometimes ada aja godaan "hari ini 10 aja deh"  and I did it.  Padahal yang Allah janjikan adalah rumah di surga.  Buat gua yang belum punya rumah di dunia,  bisa booking rumah di surga adalah beyond imagination yang mesti banget kan.  Setelah gua bersusah-susah ngayal buat punya rumah di dunia,  i think - at least- gua bisa book 1 di surga.  Dan itu sih.  Gua belum punya jiwa si mater ini.  Masih suka bandel.  Padahal ya itu,  satu hari aja bandel,  pasti di hari-hari entah kapan pasti jadi punya mindset "gapapa deh blablabla"  and it will break my goal.
.
.
How come.
Hm.
Belum punya jiwa master ternyata
.
.
And the word for "pain is another word of dream" jadi benar-benar 100% setuju.  12 rakaat adalah sangat sulit untuk diitiqomahkan,  tapi yang dijanjikan? Rumah di surgaaa.  So,  "12 rakaat" I could say as "pain"  and "rumah di surga" I could say as "dream".  Untuk sang master nahan laparnya adalah bentuk pain dan turun berat badan beserta mindset disiplinnya adalah bentuk dream.  Dan pasti kalian pernah ngalamin kan bagian hidup kalian yang punya hubungan pain-gain.  Jadi,  gua pikir mari bertahan dengan pain kita demi dream.  Really.  Pasti dream kita semua adalah sesuatu yang worth to fight for kan? So dont keep on that 'pain' and you'll get your dream. 
.
.
This post is -of course- for me and also for you.
Berfaedah kan nonton variety show ✌️😁

Sabtu, 16 Desember 2017

"andai"

Sekitar 5 hari yang lalu diskusi di camp with english of course.  Tujuannya ya untuk melatih speaking kita dengan menceritakan sesuatu yang dekat dengan kita,  bisa jadi pengalaman atau sekedar kepribadian
..
Malam itu pertanyaannya adalah "if you have time machine, where will you go? Which part of your life that you will visit?" yeah tersentak.  Pertanyaannya simple.  Jawabannya yang sulit.  Harus mengulang memori masa lalu.  Dan tentu saja skip 4 tahun ke belakang.  "Harus lebih dari 4 tahun kemarin" batinku
.
.
Sampai akhirnya tiba giliran bercerita,  mau ga mau ya mesti ada jawabannya.  So I told others about my 5 years ago. I lived in boarding school,  and it was so happy.  I thought that I will be happier to go back there.  The part of my life when I was as my boarding school student being around with many friend.  It was so fun,  yet so happy to being around with nice people.  The environment influence you right.  You are where you are,  right?  Masih ingat perumpamaan pertemanan dengan penjual parfum vs pandai besi?  Ya seperti itu lah
.
.
Pertanyaan yang menarik,  I thought. I am wondering my few months ago when I wanted that 'time machine'  badly. Back then, I was thinking about "what if I have machine time",  "what if I this",  what if that",  yang intinya adalah "mengembalikan keadaan"  atau lebih tepatnya lagi "mencegah suatu keadaan".  Tiap hari frustated dengan harapan itu tanpa sadar menjadi orang yang semakin bodoh.  Mana mungkin kita bisa kembali ke masa lalu... 99% mustahil,  dan 1%nya hanya berharap pada keajaiban.
.
Alhamdulillah selama masa frustasi (dan tanpa sadar bahwa telah membuat diri semakin bodoh) aku dikirimkan sebuah tamparan.  One of my followers-following on instagram made a caption.  Really staright-caption to me.  Intinya adalah larangan mengandai-andai.  Adalah sebuah hal yang salah jika kita berandai-andai kepada masa lalu.  Bukankah semua ini Allah yang sudah mengaturnya?  Bukankah semua ini skenario dari yang MahaBaik penulis skenario kehidupan?  Bukankah percaya qada dan qadar adalah suatu bagian dari 6 iman yang harus kita akui? Bukankah Allah akan jadikan yang terbaik terjadi dan yang buruk Dia singkirkan?  Bukankah dari kita lahir pun kita tidak bisa memilih? Pun tidak bisa berandai "andai aku datang dari keluarga x"?  Masya Allah...  Selepas membaca itu,  kuhapus air mata.  Kuhembuskan napas berat.  Bismillah,  ternyata aku salah.
.
.
Aku lupa tugas ku untuk ikhlas.  Aku lupa tugasku untuk percaya bahwa takdir Allah yang terbaik.  Bahwa apa yang terjadi hari ini adalah Allah yang mengaturnya.  Tak lepas 1 detik pun Dia salah.  Maka siapalah aku yang pantas menghakimi bahwa ini semua salah dan harus dieprbaiki dengan kembali ke masa lalu.  Ternyata aku salah.  Tugasku hanyalah harus percaya bahwa Dia sudah mengaturnya.  Skenario terbaik.  Penulis terbaik.  Tak satu makhluk pun terlepas dari pengawasannya.  Bahkan kalau mau dibilang,  nyamuk yang menggigit kita hari ini pun,  sudah ditakdirkan olehNya.  Aku harus terima semuanya.  Pun kalaupun mengapa,  itu adalah rahasia Allah.  Dalam doaku adalah meminta yang terbaik.  And there you go,  Anbar.  Kemarin,  hari ini,  adalah skenario Allah untukmu.  Untuk hamba yang meminta "berikan aku kebaikan di dunia dan di akhirat". Apa kamu mau ingkar? Apa kamu mau kufur? Astaghfirullah
.
.
Dalam hadits riwayat muslim,  tertulis bahwa berandai-andai itu pun membuka celah perbuatan syaitan.  Aku belum terlalu paham dengan tafsiran.  But,  as long as itu adalah perbuatan yang mengundang syaitan,  I shoud leave it,  right? So here I am.  Sudah (insyaAllah)  meninggalkan 'andai-andai'  berharap menjadi makhluk yang mensyukuri apapun yang terjadi dan yakin bahwa semua ini adalah skenario terbaik.  Sesekali mencari tahu 'kenapa'.  Pun jika tidak menemukan jawabannya,  aku tak apa :))
.
.
Pare-kediri
12-17-17
.
.
Ps: jawaban kembali ke masa boarding school itu juga pengandaian. Tetap tidak boleh.  Sambil menjawab pertanyaan itu aku beristighfar semoga malam itu niat ku bukanlah menepis skenario terbaik.  Tapi hanya sebagai 'jawaban aman'. Terlebih dari itu,  alasan yang aku sampaikan memang benar.  3 tahunku di boarding school belum ada yang membuat aku menyesal.  That was such a big wonderful journey of my life.